Obat Segala Penyakit
Dimana ada niat disana ada obat...BUKTIKAN..!!!

Villa Gratis di Puncak
Menginap di villa puncak bersama keluarga, Gratis! Hanya di sini.
4 Hari Di Bali Rp.999.000
4 Malam Akomodasi Dikepulauan Bali Plus + Gratis Rp.500.000 Voucher
Villa Rental in Bali
Luxury villa rental in Bali A range of villas in Bali for rent

Profil Kude Station

logo kude

Kude Station merupakan UKM yang bergerak di bidang makanan ringan (snack), minuman (es mambo) dan jasa perbaikan(komputer, notebook, handphone). Kami berdiri sejak 25 November 2012 di Bandung.
Kude Station mempunyai prinsip melayani dari hati, memberikan harga termurah dengan mengedepankan kesehatan dan halal.

Kude Station siap memberikan yang terbaik dari setiap kebutuhan anda dalam makanan ringan, minuman dan jasa perbaikan barang elektronik anda.

Powered by KUDE STATION
SMS/Telp : 0857-9428-2797
PIN BB : 20FE8315

Produk Kude Station:
1. Es Mambo



2. Aneka Makanan Ringan (Snack)



3. Jasa Service:

Padepokan Madani [Training Center]

Padepokan madani adalah sebuah tempat yang didirikan dengan tujuan memberikan pelayanan konsultasi, pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia kepada masyarakat umum didalam upaya mewujudkan masyarakat berbudaya yang maju, berakhlak, berperadaban dan melaksanakan ajaran agamanya dengan benar.

Terletak tidak jauh dari kota bandung dan dapat dicapai dengan mudah dari berbagai arah, padepokan madani sangat ideal untuk dijadikan sebagai tempat pendidikan dan pelatihan karena terletak didataran tinggi dan jauh dari keramaian kota bandung. Nikmati liburan anda dengan konsep yang berbeda serta view kota bandung nampak dari atas pada malam hari yang menawan.


Salah satu contoh program padepokan madani : ecocultural education program yakni program yang mengajak anak – anak anda untuk mengenal kehidupan desa yang bersahaja melalui kegiatan – kegiatan dan keseharian penduduk desa yang digabungkan dengan kunjungan edukasi ke saung udjo dan museum geologi bandung guna menambah wawasan dan pengetahuan tentang seni budaya sundan dan sejarah serta kondisi geologi di indonesia.


Fasilitas di Padepokan Madani :

- 43 Kamar yang nyaman berstandar star rated hotel (cable tv, minibar, tea & coffee maker, hot & cold water, telephone)
- Restaurant berkapasitas hingga 100 orang dengan pemandangan kota bandung yang indah
- 8 Ruang pertemuan dengan kapasitas 10 – 200 orang
- Business Center
- Hot spot wifi internet di seluruh area padepokan
- Kiddies playground
- Camping ground & fasilitas outbond
- Mushola yang nyaman
- Security system dengan cctv
- PABX telephone system
- Fire extinguisher di setiap area
- Wisata Kebun Bunga
- Outdoor Rest Area


INFAQ (TARIF) DI PADEPOKAN MADANI

Infaq Per Kamar

Villa
Infaq
Keterangan
1
Rp. 345.000
Sarapan 2 orang
2
Rp. 345.000
Sarapan 2 orang
3
Rp. 345.000
Sarapan 2 orang
4
Rp. 345.000
Sarapan 2 orang
5
Rp. 345.000
Sarapan 2 orang
6
Rp. 345.000
Sarapan 2 orang

Infaq Villa Suites

Villa
Fasilitas
Infaq
Keterangan
2
Lantai 1 :
- 2 Kamar tidur
- Ruang tamu
Rp. 1.250.000
Sarapan 6 orang
2
Lantai Dasar :
- 3 Kamar tidur
- Ruang tamu
- Dapur kering
Rp. 1.250.000
Sarapan 6 orang

Infaq Paket Meeting/Pertemuan

Tipe
Waktu
Infaq
Keterangan
-
08.00 – 18.00
Rp. 100.000
- Makan Siang
- Coffee Break 2x
Single
Menginap
Rp. 385.000
- Makan 3x
- Coffee Break 2x
Twin Share
Menginap
Rp. 305.000
- Makan 3x
- Coffee Break 2x
Triple
Menginap
Rp. 265.000
- Makan 3x
- Coffee Break 2x


Galeri Foto


Peta Lokasi




Padepokan Madani
Pusat Pendidikan dan Pelatihan [Training Center]
Kampung Babakan Bandung, Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang
Kab. Bandung Barat, West Java – Indonesia
Telp : +62 – 022 – 2789128
Fax : +62 – 022 – 2789142 (hot line : 24 hour)

Contact person : Reza Mahdi
Telp : 022 – 78298778 (Flexy) & 08170233799 (XL)


Selamat Berkunjung......

Kesenian Kuda Renggong


Kuda Renggong merupakan salah satu seni pertunjukan rakyat yang berasal dari Sumedang. Kata "renggong" di dalam kesenian ini merupakan metatesis dari kata ronggeng yaitu kamonesan (bahasa Sunda untuk "ketrampilan") cara berjalan kuda yang telah dilatih untuk menari mengikuti irama musik terutama kendang, yang biasanya dipakai sebagai media tunggangan dalam arak-arakan anak sunat.

Sejarah

Menurut tuturan beberapa seniman, Kuda Renggong muncul pertama kali dari desa Cikurubuk, Kecamatan Buah Dua, Kabupaten Sumedang. Di dalam perkembangannya Kuda Renggong mengalami perkembangan yang cukup baik, sehingga tersebar ke berbagai desa di beberapa kecamatan di luar Kecamatan Buah Dua. Dewasa ini, Kuda Renggong menyebar juga ke daerah lainnya di luar Kabupaten Sumedang.

Bentuk kesenian

Sebagai seni pertunjukan rakyat yang berbentuk seni helaran (pawai, karnaval), Kuda Renggong telah berkembang dilihat dari pilihan bentuk kudanya yang tegap dan kuat, asesoris kuda dan perlengkapan musik pengiring, para penari, dll., dan semakin hari semakin semarak dengan pelbagai kreasi para senimannya. Hal ini tercatat dalam setiap festival Kuda Renggong yang diadakan setiap tahunnya. Akhirnya Kuda Renggong menjadi seni pertunjukan khas Kabupaten Sumedang. Kuda Renggong kini telah menjadi komoditi pariwisata yang dikenal secara nasional dan internasional.
Dalam pertunjukannya, Kuda Renggong memiliki dua kategori bentuk pertunjukan, antara lain meliputi pertunjukan Kuda Renggong di desa dan pada festival.

Pertunjukan di pemukiman

Pertunjukan Kuda Renggong dilaksanakan setelah anak sunat selesai diupacarai dan diberi doa, lalu dengan berpakaian wayang tokoh Gatotkaca, dinaikan ke atas kuda Renggong lalu diarak meninggalkan rumahnya berkeliling, mengelilingi desa.
Musik pengiring dengan penuh semangat mengiringi sambung menyambung dengan tembang-tembang yang dipilih, antara lain Kaleked,Mojang GeulisRayak-rayakOle-ole BandungKembang BeureumKembang GadungJisamsu, dll. Sepanjang jalan Kuda Renggong bergerak menari dikelilingi oleh sejumlah orang yang terdiri dari anak-anak, juga remaja desa, bahkan orang-orang tua mengikuti irama musik yang semakin lama semakin meriah. Panas dan terik matahari seakan-akan tak menyurutkan mereka untuk terus bergerak menari dan bersorak sorai memeriahkan anak sunat. Kadangkala diselingi dengan ekspose Kuda Renggong menari, semakin terampil Kuda Renggong tersebut penonton semakin bersorak dan bertepuk tangan. Seringkali juga para penonton yang akan kaul dipersilahkan ikut menari.
Setelah berkeliling desa, rombongan Kuda Renggong kembali ke rumah anak sunat, biasanya dengan lagu Pileuleuyan (perpisahan). Lagu tersebut dapat dilantunkan dalam bentuk instrumentalia atau dinyanyikan. Ketika anak sunat selesai diturunkan dari Kuda Renggong, biasanya dilanjutkan dengan acara saweran (menaburkan uang logam dan beras putih) yang menjadi acara yang ditunggu-tunggu, terutama oleh anak-anak desa.

Pertunjukan festival

Pertunjukan Kuda Renggong di Festival Kuda Renggong berbeda dengan pertunjukan keliling yang biasa dilakukan di desa-desa. Pertunjukan Kuda Renggong di festival Kuda Renggong, setiap tahunnya menunjukan peningkatan, baik jumlah peserta dari berbagai desa, juga peningkatan media pertunjukannya, asesorisnya, musiknya, dll. Sebagai catatan pengamatan, pertunjukan Kuda Renggong dalam sebuah festival biasanya para peserta lengkap dengan rombongannya masing-masing yang mewakili desa atau kecamatan se-Kabupaten Sumedang dikumpulkan di area awal keberangkatan, biasanya di jalan raya depan kantor Bupati, kemudian dilepas satu persatu mengelilingi rute jalan yang telah ditentukan panitia (Diparda Sumedang). Sementara pengamat yang bertindak sebagai Juri disiapkan menilai pada titik-titik jalan tertentu yang akan dilalui rombongan Kuda Renggong.
Dari beberapa pertunjukan yang ditampilkan nampak upaya kreasi masing-masing rombongan, yang paling menonjol adalah adanya penambahan jumlah Kuda Renggong (rata-rata dua bahkan empat), pakaian anak sunat tidak lagi hanya tokoh Wayang Gatotkaca, tetapi dilengkapi dengan anak putri yang berpakaian seperti putri Cinderella dalam dongeng-dongeng Barat. Penambahan asesoris Kuda, dengan berbagai warna dan payet-payet yang meriah keemasan, payung-payung kebesaran, tarian para pengiring yang ditata, musik pengiring yang berbeda-beda, tidak lagi Kendang Penca, tetapi Bajidoran, Tanjidor, Dangdutan, dll. Demikian juga dengan lagu-lagunya, selain yang biasa mereka bawakan di desanya masing-masing, sering ditambahkan dengan lagu-lagu dangdutan yang sedang popular, seperti Goyang DombretPemuda IdamanMimpi Buruk, dll. Setelah berkeliling kembali ke titik keberangkatan.

Perkembangan

Dari dua bentuk pertunjukan Kuda Renggong, jelas muncul musik pengiring yang berbeda. Musik pengiring Kuda Renggong di desa-desa, biasanya cukup sederhana, karena umumnya keterbatasan kemampuan untuk memiliki alat-alat musik (waditra) yang baik. Umumnya terdiri dari kendang, bedug, goong, trompet, genjring kemprang, ketuk, dan kecrek. Ditambah dengan pembawa alat-alat suara (speakrer toa, ampli sederhana, mike sederhana). Sementara musik pengiring Kuda Renggong di dalam festival, biasanya berlomba lebih "canggih" dengan penambahan peralatan musik trompet Brass, keyboard organ, simbal, drum, tamtam, dll. Juga di dalam alat-alat suaranya.

Makna

Makna yang secara simbolis berdasarkan beberapa keterangan yang berhasil dihimpun, diantaranya
  • Makna spiritual: semangat yang dimunculkan adalah merupakan rangkaian upacara inisiasi (pendewasaan) dari seorang anak laki-laki yang disunat. Kekuatan Kuda Renggong yang tampil akan membekas di sanubari anak sunat, juga pemakaian kostum tokoh wayang Gatotkaca yang dikenal sebagai figur pahlawan;
  • Makna interaksi antar mahluk Tuhan: kesadaan para pelatih Kuda Renggong dalam memperlakukan kudanya, tidak semata-mata seperti layaknya pada binatang peliharaan, tetapi memiliki kecenderungan memanjakan bahkan memposisikan kuda sebagai mahluk Tuhan yang dimanjakan, baik dari pemilihan, makanannya, perawatannya, pakaiannya, dan lain-lain;
  • Makna teatrikal: pada saat-saat tertentu di kala Kuda Renggong bergerak ke atas seperti berdiri lalu di bawahnya juru latih bermain silat, kemudian menari dan bersilat bersama. Nampak teatrikal karena posisi kuda yang lebih tampak berwibawa dan mempesona. Atraksi ini merupakan sajian yang langka, karena tidak semua Kuda Renggong, mampu melakukannya;
  • Makna universal: sejak zaman manusia mengenal binatang kuda, telah menjadi bagian dalam hidup manusia di pelbagai bangsa di pelbagai tempat di dunia. Bahkan kuda banyak dijadikan simbol-simbol, kekuatan dan kejantanan, kepahlawanan, kewibawaan dan lain-lain.

Sumber : id.wikipedia.org

Mie Kocok Bandung

Bulatan-bulatan kekuningan yang berasal dari kaldu kaki sapi meletup-letup di dalam kuah. Seperti minyak yang melumuri mie. Kala memasukan suapannya dengan menggigit empuk dan kenyalnya kikil, lezatnya Mie Kocok Mang Dadeng makin terasa.

Berada di Jalan Banteng, dekat dengan pasar buku Palasari atau samping RS Muhammadiyah, nama Mie Kocok Mang Dadeng sudah sangat populer. Kepopuleran namanya yang terjaga dari tahun 1958, salah satunya berkat 27 bumbu ampuh penjaga citarasa.

Dituturkan Mang Dadeng (67) dirinya meracik 27 rempah-rempah untuk melezatkan mie kocoknya ini. Daun salam, serai, jahe, bawang putih, bawang merah, gula batu dan udang kering adalah beberapa macam bumbu dari 27 bumbu yang dicampurkan.

Rasa yang dihasilkannya lah yang membuat nama Mie Kocok Mang Dadeng terus melambung. Bahkan ada warga Belanda yang berniat membuka tempat mie kocok Mang Dadeng di Belanda.

"Ada orang Belanda yang menghubungi saya katanya ingin buat mie kocok di Belanda. Tapi saya tolak karena jauh," tutur Mang Dadeng.

Menurut Mang Dadeng, usaha yang diturunkan ayahnya ini dipelajarinya tahun 57-an. Pada tahun 1958 Mang Dadeng mulai menjajakan mie kocok berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya sambil memanggul. Setelah dipanggul beralih dengan mendorong roda. Pada tahun 1988 Mang Dadeng mulai menetap di trotoar Jalan Banteng yang sekarang sudah menjadi pusat usaha mie kocoknya.

"Semua perlu perjuangan. Bagaimana caranya agar laku," tutur Mang Dadeng.

Mang Dadeng mengaku resep 27 bumbu yang diraciknya sendiri, itu pun tidak langsung ditemukan. Tapi memerlukan proses yang cukup panjang.

Sampai saat ini, Mie Kocok Mang Dadeng tak pernah sepi pelanggan, terutama hari-hari libur. Dalam satu hari bisa menghabiskan sekitar 80 kaki sapi. Sedangkan jika akhir pekan bisa mencapai 100 kaki sapi.

Dalam satu hari omzet yang bisa didapatkan sebesar Rp 7-8 juta. Itu pun belum termasuk omzet di cabang-cabangnya. Di Bandung, Mie Kocok Mang Dadeng ada di Jalan Peta dan di Dapur Cobek. Sedangkan di luar kota, ada di Tebet, Jakarta Selatan, dan Karawang.

Bapak dari tujuh putra ini masih ingin terus mempertahankan nama usahanya yang sudah populer. Meski diakuinya omzet usaha menurun selepas kenaikan BBM beberapa waktu lalu.

"Harga bumbu pada naik. Pengunjung berkurang," ujar Mang Dadeng. Meski begitu dirinya masih punya kenginan untuk mmebuka satu cabang lagi di daerah Cimahi. Sehingga penyebaran penjualan Mie Kocok Mang Dadeng bisa merata.

Satu porsi mie kocok spesial Rp 19 ribu sedangkan mie kocok biasa Rp 16 ribu. Penambahan sumsum tulang yang lembut dalam mie kocok spesial menambah kenikmatan di tengah kaldu yang kaya rasa.

Sumber :  bandung.detik.com

Kesenian Sunda Bangreng

Seni Bangreng adalah pengembangan dari seni "Terbang" dan "Ronggeng". Seni terbang itu sendiri merupakan kesenian yang menggunakan "Terbang", yaitu semacam rebana tetapi besarnya tiga kali dari alat rebana. Dimainkan oleh lima pemain dan dua orang penabu gendang besar dan kecil. 

Pertama kali munculnya seni terbang ini yaitu pada waktu penyebaran Agama Islam yang dilakukan oleh Wangsa Kusumah dimana seni terbang dijadikan media untuk Dawah. Sedangkan "Ronggeng" adalah sebutan bagi sipenari dan sekaligus penyanyi atau disebut pula "Nyi Ronggeng". Karena sebutannya "Nyi", maka ronggeng seorang perempuan. 

Menurut penuturan para ahli seni (seniman), seni bangreng ini berasal dari Kabupaten Sumedang dan biasa dipertunjukkan pada acara-acara hiburan dan acara khusus seperti ; ruatan rumah, mendirikan bangunan baru dan syukuran-syukuran lainnya.

Sumber : jabarprov.go.id



Kue Saroja / Kembang Goyang

Camilan yang satu ini berasal dari nama kembang seroja. Bentuknya memang dibuat mirip bunga seroja yang cantik. Rasanya juga krenyes gurih saat dimakan, kres kres... bikin mulut tak bisa berhenti bergoyang. Kalau orang Betawi punya kue kembang goyang, urang Sunda punya kue saroja. 

Seperti namanya kue tersebut berasal dari nama kembang seroja yang memiliki sebutan lain yaitu bunga teratai. Kue saroja biasanya menjadi suguhan pada saat-saat tertentu seperti perayaan, pernikahan, hari raya lebaran, dll. Di Jawa Barat sana kue saroja ini salah satu kue tradisional yang resepnya berasal dari turun-temurun.

Selain bentuknya yang mirip dengan kue kembang goyang, cara pembuatan kue saroja ini pun mirip-mirip dengan kue kembang goyang. Bahan dasar utamanya adalah tepung beras yang dicampur sedikit tepung terigu, garam, dan irisan halus daun jeruk agar harum. Untuk membuatnya berbentuk kembang seroja, sudah ada cetakan khusus bergagang panjang yang bisanya terbuat dari alumunium. 

Setelah dicelupkan ke dalam adonan yang encer, cetakan tersebut tinggal dicelupkan ke dalam minyak panas dan digoyang-goyangkan hingga warnanya berubah keemasan. Jika kue sudah kering, maka dengan sendirinya akan terlepas dengan mudah dari cetakan. Tekstur kue saroja yang tipis membuat kue ini terasa krenyes renyah saat dimakan. 

Selain itu, kue saroja memiliki citarasa yang sedikit berbeda dengan kembang goyang yang manis, karena kue saroja ini rasanya gurih enak. Cocok sebagai camilan sehari-hari atau teman menikmati teh dan kopi di sore hari. Kue saroja biasanya banyak dijual terutama menjelang hari raya. Buat mereka yang pulang mudik ke Ciamis, Tasik, dan daerah di sekitar Jawa Barat pastinya kue saroja menjadi salah satu oleh-oleh yang kerap dibawa sebagai oleh-oleh.

Sumber : food.detik.com

Kesenian Reog Sunda


Reog di Jawa Barat adalah sebutan untuk suatu bentuk kesenian Sunda.

Sejarah

Di Indonesia, reog jenis ini diperkenalkan secara nasional oleh Kelompok Reog BKAK, sebuah kelompok dari Polri (dahulu: Angkatan Kepolisian). Para pemainnya adalah Mang Udi, Mang Diman, Mang Hari dan Mang Dudung. Atau sekitar tahun 1967 muncul perkumpulan Reog Wanita dengan tokohnya Pak Emen dan Ibu Anah dan kemungkinan di daerah lainyapun bermunculan seni reog hanya tidak tercatat secara jelas.

Karakteristik

Kesenian reog menggunakan dogdog (gendang) yang ditabuh, diiringi oleh gerak tari yang lucu dan lawak oleh para pemainnya. Biasanya disampaikan dengan pesan-pesan sosial dan keagamaan. Kesenian reog dimainkan oleh empat orang, yaitu seorang dalang yang mengendalikan permainan, wakilnya dan ditambah oleh dua orang lagi sebagai pembantu. Dalang memainkan dogdog berukuran 20 cm yang disebut dogdog Tilingtingtit. Wakilnya memegang dogdog yang berukuran 25 cm yang disebut Panempas, pemain ketiga menggunakan dogdog ukuran 30-35 cm yang disebut Bangbrang dan pemain keempat memegang dogdog ukuran 45 cm yang disebut Badublag. Lama permainannya berkisar antara satu sampai satu setengah jam. Untuk lagu-lagunya ada pula penabuh waditra dengan perlengkapan misalnya dua buah saron, gendang, rebab, goong, gambang dll. yang berfungsi sebagai pengiring lagu-lagunya sebagai selingan atau pelengkap. Reog yang sekarang memang beda dengan reog zaman dahulu, sedikit sudah dikembangkan terlihat dari jumlah personel dan alat musik yang dipakai. Alat musik yang di pakai pada Reog adalah Reog atau ada yang nyebut dogdog atau ogel yang terdiri dari Dalang, Wakil, Beungbreung, Gudubrag, dan Kecrek (markis), alat musik pengiring Reog biasanya kendang, goong, torompet dan kacapi. Pada Reog hasil pengembangan biasanya di tambah alat musik [keyboard] dan [gitar].

Situasi saat ini

Seni reog ini disenangi oleh masyarakat terutama masyarakat di pedesaan dan sebagian kecil masyarakat perkotaan karena mengandung unsur hiburan dan daya tarik irama gendang. Namun sekarang ini pemain dan kelompok organisasinya semakin sulit untuk dijumpai. Kalaupun ada mereka itu biasanya dari kelompok generasi tua. Pertunjukannyapun sudah semakin jarang karena tidak ada atau sangat kurangnya permintaan untuk tampil.
Walaupun sudah mulai tersisihkan, masih banyak warga masyarakat yang mengharapkan agar media masa seperti; TVRI, dan Stasiun Televisi swasta menayangkan jenis-jenis kesenian seperti reog ini. Terakhir ini Pemerintah Kota Bandung mengadakan festival Reog se Kota Bandung yang diikuti sekitar 32 grup dan ini menandakan masih adanya kesenian Reog di lingkungan masyarakat Sunda khususnya di Kota Bandung. Tentu di daerah lainyapun pasti ada hanya saja karena tidak adanya yang mengkoordinir atau tidak adanya pertemuan semacam festival menimbulkan mereka tidak muncul atau mereka hanya bermain di lingkungan sekitarnya.

Sumber : id.wikipedia.org

Kesenian Sisingaan


Sisingaan atau Gotong Singa (sebutan lainnya Odong-odong) merupakan salah satu jenis seni pertunjukan rakyat Jawa Barat, khas Subang (di samping seni lainnya seperti Bajidoran dan Genjring Bonyok) berupa keterampilan memainkan tandu berisi boneka singa (Sunda: sisingaan, singa tiruan) berpenunggang.

Sejarah & perkembangan

Terdapat beberapa keterangan tentang asal usul Sisingaan ini, di antaranya bahwa Sisingaan memiliki hubungan dengan bentuk perlawanan rakyat terhadap penjajah lewat binatang Singa kembar (Singa kembar lambang penjajah Belanda), yang pada waktu itu hanya punya sisa waktu luang dua hari dalam seminggu. Keterangan lain dikaitkan dengan semangat menampilkan jenis kesenian di Anjungan Jawa Barat sekitar tahun 70-an, ketika Bupati Subang dipegang oleh Pak Atju. Pada waktu itu RAF (Rachmatulah Ading Affandi) yang juga tengah berdinas di Subang, karena ia dikenal sebagai seniman dan budayawan dimintakan kitanya. Dalam prosesnya itu, akhirnya ditampilkanlah Gotong Singa atau Sisingaan yang dalam bentuknya masih sederhana, termasuk musik pengiringnya dan kostum penari pengusung Sisingaan. Ternyata sambutannya sangat luar biasa, sejak itu Sisingaan menjadi dikenal masyarakat.
Dalam perkembangan bentuknya Sisingaan, dari bentuk Singa Kembar yang sederhana, semakin lama disempurnakan, baik bahan maupun rupanya, semakin gagah dan menarik. Demikian juga para pengusung Sisingaan, kostumnya semakin dibuat glamour dengan warna-warna kontras dan menyolok.. Demikian pula dengan penataan gerak tarinya dari hari ke hari semakin ditata dan disempurnakan. Juga musik pengiringnya, sudah ditambahkan dengan berbagai perkusi lain, seperti bedug, genjring dll. Begitu juga dengan lagu-lagunya, lagu-lagu dangdut popular sekarang menjadi dominan. Dalam beberapa festival Helaran Sisingaan selalu menjadi unggulan, masyarakat semakin menyukainya, karena itu perkembangannya sangat pesat.
Dewasa ini, di Subang saja diperkirakan ada 200 grup Sisingaan yang tersebar di setiap desa, oleh karena itu Festival Sisingaan Kabupaten Subang yang diselenggarakan setiap tahunnya, merupakan jawaban konkrit dari antusiasme masyarakat Subang. Karena bagi pemenang, diberi peluang mengisi acara di tingkat regional, nasional, bahkan internasional. Penyebaran Sisingaan sangat cepat, dibeberapa daerah di luar Subang, seperti Sumedang, Kabupaten Bandung, Purwakarta, dll, Sisingaan menjadi salah satu jenis pertunjukan rakyat yang disukai, terutama dalam acara-acara khitanan dan perkawinan. Sebagai seni helaran yang unggul, Sisingaan dikemas sedemikian rupa dengan penambahan pelbagai atraksi, misalnya yang paling menonjol adalah Jajangkungan dengan tampilan manusia-manusia yang tinggi menjangkau langit, sekitar 3-4 meter, serta ditambahkan dengan bunyibunyian petasan yang dipasang dalam bentuk sebuah senapan.
Dalam rangka menumbuhkembangkan seni sisingaan khas kabupaten subang, sanggar seni ninaproduction berupaya untuk melakukan regerasi melaui pembinaan tari anak-anak usia 7 tahun sampai remaja, termasuk tari sisingaan. Nina production beralamat di Jalan Patinggi no 78 Desa buni hayu Jalancagak Subang, sampai saa ini Sanggar Nina Production telah di liput oleh trans 7 dalam acara wara wiri, Daai TV dan sekarang tangggal 2 Mei 2010 akan diliput oleh ANTV dalam acara anak pemberani.

Pertunjukan

Pertunjukan Sisingaan pada dasarnya dimulai dengan tetabuhan musik yang dinamis. Lalu diikuti oleh permainan Sisingaan oleh penari pengusung sisingaan, lewat gerak antara lain: Pasang/Kuda-kuda, Bangkaret, Masang/Ancang-ancang, Gugulingan, Sepakan dua, Langkah mundur, Kael, Mincid, Ewag, Jeblag, Putar taktak, Gendong Singa, Nanggeuy Singa, Angkat jungjung, Ngolecer,Lambang, Pasagi Tilu, Melak cau, Nincak rancatan, dan Kakapalan. Sebagai seni Helaran, Sisingaan bergerak terus mengelilingi kampung, desa, atau jalanan kota. Sampai akhirnya kembali ke tempat semula. Di dalam perkembangannya, musik pengiring lebih dinamis, dan melahirkan musik Genjring Bonyok dan juga Tardug.

Penyajian

Pola penyajian Sisingaan meliputi:
  1. Tatalu (tetabuhan, arang-arang bubuka) atau keringan
  2. Kidung atau kembang gadung
  3. Sajian Ibingan di antaranya solor, gondang, ewang (kangsreng), catrik, kosong-kosong dan lain-lain
  4. Atraksi atau demo, biasanya disebut atraksi kamonesan dalam pertunjukan Sisingaan yang awalnya terinspirasi oleh atraksi Adem Ayem (genjring akrobat) dan Liong (barongsay)
  5. Penutup dengan musik keringan.

Musik pengiring

Musik pengiring Sisingaan pada awalnya cukup sederhana, antara lain: Kendang Indung (2 buah), Kulanter, Bonang (ketuk), Tarompet, Goong, Kempul, Kecrek. Karena Helaran, memainkannya sambil berdiri, digotong dan diikatkan ke tubuh. Dalam perkembangannya sekarang memakai juru kawih dengan lagu-lagu (baik vokal maupun intrumental), antara lain: Lagu Keringan, Lagu Kidung, Lagu Titipatipa, Lagu Gondang,Lagu Kasreng, Lagu Selingan (Siyur, Tepang Sono, Awet rajet, Serat Salira, Madu dan Racun, Pria Idaman, Goyang Dombret, Warudoyong dll), Lagu Gurudugan, Lagu Mapay Roko atau Mars-an (sebagai lagu penutup). Lagu lagu dalam Sisingaan tersebut diambil dari lagu-lagu kesenian Ketuk Tilu, Doger dan Kliningan.

Pemaknaan

Ada beberapa makna yang terkandung dalam seni pertunjukan Sisingaan, diantaranya:
  • Makna sosial, masyarakat Subang percaya bahwa jiwa kesenian rakyat sangat berperan dalam diri mereka, seperti egalitarian, spontanitas, dan rasa memiliki dari setiap jenis seni rakyat yang muncul.
  • Makna teatrikal, dilihat dari penampilannya Sisingaan dewasa ini tak diragukan lagi sangat teatrikal, apalagi setelah ditmabhakn berbagai variasi, seperti jajangkungan dan lain-lain.
  • Makna komersial, karena Sisingaan mampu meningkatkan kesejahteraan mereka, maka antusiasme munculnya sejumlah puluhan bahkan ratusan kelompok Sisingaan dari berbagai desa untuk ikut festival, menunjukan peluang ini, karena si pemenang akan mendapatkan peluang bisnis yang menggiurkan, sama halnya seperti seni bajidoran.
  • Makna universal, dalam setiap etnik dan bangsa seringkali dipunyai pemujaan terhadap binatang Singa (terutama Eropa dan Afrika), meskipun di Jawa Barat tidak terdapat habitat binatang Singa, namun dengan konsep kerkayatan, dapat saja Singa muncul bukan dihabitatnya, dan diterima sebagai miliknya, terbukti pada Sisingaan.
  • Makna Spiritual, dipercaya oleh masyarakat lingkungannya untuk keselamatan/ (salametan) atau syukuran.

Sumber rujukan

Kesenian Tarawangsa


Tarawangsa merupakan salah satu jenis kesenian rakyat yang ada di Jawa Barat. Istilah "Tarawangsa" sendiri memiliki dua pengertian: alat musik gesek yang memiliki dua dawai yang terbuat dari kawat baja atau besi dan nama dari salah satu jenis musik tradisional Sunda.

Sejarah

Tarawangsa lebih tua keberadaannya daripada rebab, alat gesek yang lain. Naskah kuno Sewaka Darma dari awal abad ke-18 telah menyebut nama tarawangsa sebagai nama alat musik. Rebab muncul di tanah Jawa setelah zaman Islam sekitar abad ke-15—16, merupakan adaptasi dari alat gesek bangsa Arab yang dibawa oleh para penyebar Islam dari tanah Arab dan India. Setelah kemunculan rebab, tarawangsa biasa pula disebut dengan nama rebab jangkung (rebab tinggi), karena ukuran tarawangsa umumnya lebih tinggi daripada rebab.

Pertunjukan

Sebagai alat musik gesek, tarawangsa tentu saja dimainkan dengan cara digesek. Akan tetapi yang digesek hanya satu dawai, yakni dawai yang paling dekat kepada pemain; sementara dawai yang satunya lagi dimainkan dengan cara dipetik dengan jari telunjuk tangan kiri. Kemudian, sebagai nama salah satu jenis musik, tarawangsa merupakan sebuah ensambel kecil yang terdiri dari sebuah tarawangsa dan sebuah alat petik tujuh dawai yang menyerupai kacapi, yang disebut Jentreng.
Kesenian Tarawangsa hanya dapat ditemukan di beberapa daerah tertentu di Jawa Barat, yaitu di daerah Rancakalong (Sumedang), Cibalong, Cipatujah (Tasikmalaya Selatan), Banjaran (Bandung), dan Kanekes (Banten Selatan). Dalam kesenian Tarawangsa di daerah Cibalong dan Cipatujah, selain digunakan dua jenis alat tersebut di atas, juga dilengkapi dengan dua perangkat calung rantay, suling, juga nyanyian.
Alat musik tarawangsa dimainkan dalam laras pelog, sesuai dengan jentrengnya yang distem ke dalam laras pelog. Demikian pula repertoarnya, misalnya tarawangsa di Rancakalong terdiri dari dua kelompok lagu, yakni lagu-lagu pokok dan lagu-lagu pilihan atau lagu-lagu tambahan, yang semua berlaraskan pelog. Lagu pokok terdiri dari lagu Pangemat/pangambat, Pangapungan, Pamapag, Panganginan, Panimang, Lalayaan dan Bangbalikan. Ketujuh lagu tersebut dianggap sebagai lagu pokok, karena merupakan kelompok lagu yang mula-mula diciptakan dan biasa digunakan secara sakral untuk mengundang Dewi Sri. Sedangkan lagu-lagu pilihan atau lagu-lagu yang tidak termasuk ke dalam lagu pokok terdiri dari SaurMataramanIring-iringan (Tonggeret), JemplangLimbanganBangunLalayaanKaratonan,DegungSirnagalihBuncisPangairanDengdoAngin-anginReundeuPagelaranAyun AmbingReundeuh ReundangKembang Gadung,OndeLegon (koromongan), dan Panglima.
Lagu-lagu Tarawangsa di Rancakalong jauh lebih banyak jumlahnya daripada lagu-lagu Tarawangsa di Banjaran dan Cibalong. Lagu-lagu Tarawangsa di Banjaran di antaranya terdiri dari PangrajahPanimangBajing LuncatPangapunganBojong Kaso, dan Cukleuk. Sementara lagu-lagu Tarawangsa di Cibalong di antaranya terdiri dari SalancarAyunCipinanganMulangManuk HejoKang KiaiAleuy, danPangungsi.
Sebagaimana telah disinggung di atas, alat musik pokok kesenian tarawangsa terdiri dari tarawangsa dan jentreng. Menurut sistem klasifikasi Curt Sachs dan Hornbostel, Tarawangsa diklasifikasikan sebagai Chordophone, sub klasifikasi neck-lute, dan Jentreng diklasifikasikan juga sebagai Chordophone, sub klasifikasi zither. Sedangkan menurut cara memainkannya, tarawangsa diklasifikasikan sebagai alat gesek dan jentreng diklasifikasi sebagai alat petik. Alat musik tarawangsa terbuat dari kayu kenanga, jengkol, dadap, dan kemiri. Dalam ensambel, tarawangsa berfungsi sebagai pembawa melodi (memainkan lagu), sedangkan jentreng berfungsi sebagai pengiring (mengiringi lagu).
Pemain tarawangsa hanya terdiri dari dua orang, yaitu satu orang pemain tarawangsa dan satu orang pemain jentreng. Semua Pemain Tarawangsa terdiri dari laki-laki, dengan usia rata-rata 50 – 60 tahunan. Mereka semuanya adalah petani, dan biasanya disajikan berkaitan dengan upacara padi, misalnya dalam ngalaksa, yang berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah. Dalam pertunjukannya ini biasanya melibatkan para penari yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka menari secara teratur. Mula-mula Saehu/Saman (laki-laki), disusul para penari perempuan. Mereka bertugas ngalungsurkeun (menurunkan) Dewi Sri dan para leluhur. Kemudian hadirin yang ada di sekitar tempat pertunjukan juga ikut menari. Tarian tarawangsa tidak terikat oleh aturan-aturan pokok, kecuali gerakan-gerakan khusus yang dilakukan Saehu dan penari perempuan yang merupakan simbol penghormatan bagi dewi padi. Menari dalam kesenian Tarawangsa bukan hanya merupakan gerak fisik semata-mata, melainkan sangat berkaitan dengan hal-hal metafisik sesuai dengan kepercayaan si penari. Oleh karena itu tidak heran apabila para penari sering mengalami trance (tidak sadarkan diri).

Sumber rujukan

Krupuk Seuhah "SLONDOK"


1 Bungkus Slondok
Jika kita bicara makanan khas, pasti kita langsung teringat berbagai makanan unik yang khas dari berbagai daerah di Indonesia. Misalnya makanan khas dari Magelang, sebut saja slondok yang memang sudah ada sejak  aku kecil. Tidak tahu pastinya mulai kapan, tapi  di Magelang khususnya di desa parakan industri rumahan krupuk slondok sudah begitu banyak dan menjadi salah satu pekerjaan yang cukup untuk menghidupi keluarga.

Cara pembuatannya sangat sederhana. krupuk slondok berbahan dasar ketela pohon yang dipilih dengan baik kemudian dikupas dan di rebus hingga matamg. Setelah proses perebusan selesai ketela di tumbuk sampai halus dengan diberi bumbu, bawang putih, garam, daun jeruk dan penyesap rasa. usahakan sontrot yang ada pada ketela sudah di bersihkan terlebih dahulu. selanjutnya proses penggilingan, penggilingan dapat dilakukan dengan manual maupun mesin. Hasil gilingan dipotong sesuai selera. Proses selanjutnya adalah membentuk ketela yang sudah di giling atau biasa di sebut “getuk” di bentuk melingkar. Jemur pada sinar matahari sampai kering, karena jika tidak kering akan membuat minyak goring boros. Yang istimewa disamping rasanya yang khas juga tanpa bahan pengawet. Walau tanpa bahan pengawet tetapi dengan penyimpanan yang benar bisa bertahan hingga 1 tahun.


1 Bal Krupuk Slondok isi 25 bungkus
Harga Rp. 25.000 / 1 Bal (isi 25 bungkus)

Pemesanan & Pembelian
Krupuk Seuhah "SLONDOK"
Jl. Karasak Utara No.54
Bandung, Jawa Barat - Indonesia
Phone : 022-61382246
Mobile1 : 085794282797 (Dani)

EMail
rusdan84@gmail.com

CHAT
YM & Gtalk : rusdan84

Rekening Bank :
Bank : Mandiri
Cabang : Otista
Rekening : 132-00-0707729-1
Atas Nama : -


Villa Gratis di Puncak
Menginap di villa puncak bersama keluarga, Gratis! Hanya di sini.

4 Hari Di Bali Rp.999.000
4 Malam Akomodasi Dikepulauan Bali Plus + Gratis Rp.500.000 Voucher

Rent Villa Bandung
Pilihan terlengkap untuk Villa - Hanya di Tokobagus !

Villa Rental in Bali
Luxury villa rental in Bali A range of villas in Bali for rent

Wisata Lembang